PLTSa, solusi tak solutif Dada Rosada

27 07 2008

____ Ass. Wr. Wb., CMIIW, konsep dari PLTSa sendiri sebenarnya mengacu kepada WTE (waste to incinerator), yang selain secara signifikan dapat mereduksi volume sampah dengan merubahnya menjadi abu, juga menghasilkan energi sampingan dari pembakarannya yang dapat dikonversi menjadi energi listrik, meskipun besarnya tidak signifikan.

Kekhawatiran masyarakat akan cemaran abu maupun zat dioksin hasil pembakaran yang tidak sempurna, sebetulnya tidak perlu dibesar-besarkan, karena dalam penyusunan program ini, telah dilakukan uji kelayakan. Teknologi WTE di negara asalnya sendiri pun telah teruji keamanannya dan keandalannya selama bertahun-tahun.

Walaupun program PLTSa ini di kota Bandung masih menuai pro dan kontra, di Singapura yang negara asalnya sendiri, WTE telah menjadi salah satu program unggulan pemerintah Singapura untuk menanggulangi sampah. Semoga semua elemen di Kota Bandung dapat bersinergi untuk menyukseskan program Pemerintah, dalam tindak nyata demi Bandung yang lebih baik.

Wass. rosadadad.wordpress.com

 

___ Memang benar see…..kalo sampah bisa ngasilin gas beracun, yang kata pakar biologi disebutkan dengan nama DIOXIN. Tapi sampah yang kaya gimana..? emang semua sampah bisa ngasilin gas DIOXIN tersebut…..??? Ternyata tidak semua sampah menghasilkan gas tersebut….!

Asal tau saja, sepengatahuan gw dioxin tuh dihasilkan dari pembakaran sampah, hasil samping produk pestisida, pembakaran dari proses produksi baja atau prses kimia atau suatu produk yang menggunakan chlor sebagai pemutiih seperti kertas and plastik.

Nah pembakaran sampah yang kaya gimana…? Itu yang perlu kita tau….Pembakaran sampah yang ngasilin dioxin seperti pembakaran kertas, plastik dkk, pokonya produk rumah tangga and industri yang mengandung senyawa chlor. N yang gw tau PLTSa tu yang dipakai sampah organik……dan barang-barang tadi yang sudah disebut kayaknya barang anorganik.

Sebenernya sampah ga dibakar secara langsung, tapi memerlukan proses, ada proses pemilihan sampah (sampah organik dan anorganik dipsah karena kan yang dipake cuma sampah organiknya), proses fermentasi, proses composting dsb. Kemudian sampah organik itu dikasih bakteri pengurai untuk dapat diteruska ke proses berikutnya.

NAh dari sampah yang dimanfaatkan apa…..??? Jadi yang diambil dari sampahnya itu gas juga yang namanya gas Methana. Karena gas ini mudah meledak, jadi dimanfaatkan untuk memutar turbin pada PLTSa ini. Kejadian yang kemarin terjadi, bahwa ada TPA yang meledak….itu karena gas metana yang menumpuk dibawah, yang dihasilkan oleh sampah tadi. Pada PLTSa ini gas methana ditampung dalam tabung yang nantinya disalurkan untuk memutar turbin. Dari turbin itu dihasilkan listrik….bukan turbinnya ya….tapi generator yang di gerakkan oleh turbin.

Udah ada koq negara yang memanfaatkan sampah sebagai pembangkit tenaga listrik…..seperti singapura. Kelihatannya masyarakatnya fine2 ajach tuch. Atau mungkin karena masyarakat kita yang tidak siap menerima perkembangan….??? Inget coy….sumber daya yang ada sekarang semakin tipis. bahkan suatu saat bisa habis. Jadi jangan memandang sesuatu dari segi negatifnya saja. Lihat jg dari sisi positifnya…. Kalau toh ada negatifnya, kita pikirkan bersama gimana solusi dari masalah tersebut….Jangan memandang dari siapa yang menyampaikan….Tapi apa yang disampaikan…..

Maaf kalau gw dianggap menggurui…. Itu semua uraian apa yang gw tau…. Bukan semata mata karena sesuatu atau mungkin karena waktu saat ini. Inget hadist Rasul..??? Sampaikanlah ilmu yang kamu dapat walau sebesar biji kacang…intinya gitu.. Jadi mulailah belajar menciptakan sesuatu. Jangan cuma bisa menciptakan maslah dan jangan membudayakan budaya konsumtif (hanya bisa makai tapi ga tau apa-apa)

Sekali lagi sorry kalu ada yang ga suka….atau ada kata2 gw yang kurang berkenan. Kalau Pendapat saya salah mohon dibenarkan, kalau kurang mohon dilengkapi, kalau benar semoga bermanfaat.

Oiya kelupaan…..kalu mau yang lebih jelas liat ajah di wesite iutglobal.com. disitu informasi tentang PLTSa ada. silahkan dibaca, dicerna, lalu pendapatnya. Thank’s (cazenboy@yahoo.co.id).

_____ Buat cazenboy@yahoo.co.id atau siapa pun yang dukung PLTSa gedebage: IUT Global tidak bisa dibandingkan dengan rencana PLTSa Gedebage. Gw bukan cuma liat IUT Global di internet, tapi sudah NGELIAT LANGSUNG pabrik pengolahan sampah IUT Global & Senoko di Singapura. FAKTANYA: lokasi berada di area khusus industri (industry area), dikelilingi hutan dan laut, perjalanan darat 2,5 jam dari pusat kota Singapura via jalan tol (highway), berada di sisi pantai sehingga asapnya langsung tertiup angin ke atmosfer, dan JAUH DARI PERMUKIMAN penduduk -makanya masyarakat Singapore fine2 aja tuw… kagak protes, ya karena aman dan jauh. Permukiman terdekat jaraknya 4-5 km ke pabrik. Sedangkan PLTSa di Gedebage hanya 200-300 meter dari permukiman penduduk, sehingga sangat wajar jika penduduk sekitar menentangnya. Jadi, yang fair dong kalo ngebandingin….!

Warga GCA, seperti dituturkan Ketua Aliansi Rakyat Tolak Pemaksaan PLTSa, M. Tabroni, BUKAN MENENTANG PLTSa-nya, tapi MENOLAK PLTSa DEKAT PERMUKIMAN… diualang … MENOLAK PLTSa DEKAT PERMUKIMAN. Jadi, bisa disimpulkan, warga GCA dan sekitarnya itu ok-ok aja ada PLSa, tapi JANGAN DEKAT permukiman, termasuk dekat permukiman mereka. Jadi, coba deh solider dikit sama warga GCA.

Bahkan, pakar teknik lingkungan alumni ITB, Gede H. Cahyana, mengatakan, PLTSa bukan soal jauh-dekat dengan permukiman, tapi memang kita tidak boleh membakar sampah karena berbahaya. (jundula@bandungtimur).*





Pernyataan Sikap Gemes (tanggapan kpd kegagalan Dada Rosada)

15 07 2008

GEMA SABILULUNGAN (GEMES)

KAMMI – ART P2SP – FORKOPMAS – WALHI JABAR – KOALISI ADVOKAT – SOLIDARITAS PEDAGANG TRADISIONAL –SIDAK – WAN ABUD – GEMA ITB

Sekretariat Bersama : Front Bela Bangsa Jl. Asia Afrika No. 90

PERNYATAAN SIKAP

Parameter keberhasilan seorang pemimpin adalah kemampuan mengoptimalkan potensi yang ada bagi sebesar – besarnya kesejahteraan rakyat. Maka, keberhasilan seorang Walikota Bandung tentu saja dinilai dari pemanfaatan potensi yang ada di Kota Bandung. Jika dinilai, kepemimpinan Walikota Bandung periode 2003 – 2008, justru mengabaikan potensi daerah sehingga kesejahteraan warga Bandung pun tidak dapat dicapai. Kegagalan mengolah potensi daerah dan dan mensejahterakan warga Bandung terlihat dalam beberapa hal sebagai berikut :

- PENDIDIKAN :

Capaian indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) yang menurun pada tahun 2007, yaitu dari 10,54 tahun pada tahun 2006 menjadi 10,49 tahun pada tahun 2007 dari target sebesar 11,36 tahun (atau 11,02 tahun pada dokumen RKPD 2007). Penurunan angka ini dapat dimaknai sebagai gagalnya penyelenggaraan Wajib Belajar 12 tahun yang telah diamanatkan dalam Renstra Kota Bandung 2004-2008, terkait dengan bertambahnya jumlah anak usia sekolah yang tidak dapat menyelesaikan jenjang pendidikan menengahnya di SMA/MA/SMK.

- KESEHATAN:

Anggaran sebagai premi masyarakat miskin dalam pelayanan kesehatan adalah sebesar Rp. 20.773.800.000,-. Kemudian dari APBD Perubahan tahun 2007, dialokasikan dana hibah sebesar Rp.5.900.000.000,- untuk buffer stock kesehatan. Dengan demikian seluruh masyarakat miskin Kota Bandung sebenarnya sudah dijamin pemeliharaan kesehatannya pada tahun 2007. Namun, kenyataannya masih sering muncul keluhan dalam hal proses pengurusan pelayanan Askeskin yang berbelit-belit. Sedangkan Angka Kematian Ibu sebesar 11 jiwa, tingginya AKI ini menjadi indikator ketidakberhasila Program Bandung Sehat 2007.

- LINGKUNGAN HIDUP

1. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), dalam salah satu pointer hasil pemeriksaan atas Kegiatan Pengendalian Pencemaran Udara T.A. 2005 – 2007 menyatakan bahwa jumlah luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung belum memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2006, yang mengakibatkan kemampuan lingkungan untuk mereduksi pencemaran udara secara alami tidak seimbang dengan peningkatan beban pencemaran udara yang semakin tinggi.

2. Pada tahun 2007 telah dilaksanakan pembangunan di kawasan Punclut, khususnya di atas lahan yang dikuasai oleh PT Dam Utama Sakti Prima (DUSP), bahkan saat ini telah berdiri Sekolah Internasional Singapura di lokasi tersebut. Sementara itu, kegiatan pemapasan bukit-bukit (cut and fill) masih terus dilakukan, padahal tidak diperkenankan dalam dokumen amdalnya. Di sisi lain, penghijauan di kawasan lahan PT DUSP belum terlihat, kecuali penanaman beberapa pohon palem yang berakar serabut.

3. Kota Bandung menghadapi permasalahan lingkungan hidup yang sedemikian kompleks, seperti yang tercantum dalam LKPJ 2007, yakni menurunnya kualitas udara, menurunnya muka air tanah, meningkatnya pencemaran pada sumber air permukaan, serta indikasi pencemaran tanah oleh limbah B3 di sekitar lokasi industri.

- RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah)

1. Pemerintah tidak tegas thd pengalihfungsian Kawasan hutan lindung Bandung Utara yang diincar oleh kelompok tertentu untuk kepentingan pembangunan pragmatis. Padahal air limpasan (run-off) dari KBU sudah sedemikian tinggi, sehingga mengakibatkan banjir di jalan raya dan pemukiman penduduk, serta di sisi lain potensi timbulnya permasalahan lingkungan akan semakin tinggi.

2. Pembangunan PLTsa di kawasan perumahan (Griya Cempaka Arum), menyalahi aturan tata ruang yakni mengubah area pemukiman menjadi pabrik sampah. Yakni menyalahi Perda No.2 Tahun 2004 juncto No.3 Tahun 2006 tentang RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kota Bandung.

- KETENAGAKERJAAN

1. Lambannya pengurangan jumlah pengangguran di Kota Bandung merupakan hal yang amat mengkhawatirkan. Jumlah Pengangguran Kota Bandung sebesar 13 %. Jumlah tersebut tetap selama tiga tahun terakhir.

2. Buruh tidak mendapat perhatian, terutama masih ditemui kriminalisasi perburuhan, Misalnya kasus SP Farkes RS Kebonjati. Kenaikan UMK tidak proporsional dengan pentahapan KHL (Kebutuhan Hidup Layak).

- PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

Masih banyak orang tua yang mengeksploitasi anaknya untuk menambah penghasilan keluarga. Jumlah anak jalanan semakin bertambah pada tahun 2006 jumlahnya tidak kurang dari 4.000-6.000 anak jalanan. Sedangkan sumber dari BPS terakhir menyebutkan jumlah anak terlantar menjadi 62.000 dan bayi terlantar 29.000. Sedang anggaran anak jalanan justru tidak digunakan untuk bekerjasama lembaga kesejahteraan seperti KPAID (Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah) Kota Bandung, namun masuk ke satpol PP.

- PERHUBUNGAN

Kerugian yang diakibatkan oleh kemacetan di Kota Bandung ditaksir mencapai Rp 1,78 milyar/hari. Dampak negatif lainnya adalah peningkatan pencemaran udara (87% dari sektor transportasi), peningkatan kadar timbal (Pb) dalam darah balita yang bermukim di pinggir jalan dan siswa sekolah di Kota Bandung, serta peningkatan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

- Pasar Tradisional

Selama tahun 2006 yang disampaikan oleh Dinas Pengelolaan Pasar cukup mengejutkan, yaitu ada 6 hypermarket, 60 supermarket, dan 350 minimarket, dan pada tahun 2007 omset para pedagang tradisional menurun hampir 40%. Walikota terbukti tidak komitmen untuk membatasi penerbitan ijin untuk pendirian hypermarket dan supermarket baru. Dengan kondisi seperti ini, dikhawatirkan eksistensi pasar tradisional dan toko/warung milik masyarakat secara pasti akan tergerus.

- PLTSa

Rencana PD Kebersihan bekerjasama dengan pihak ketiga dalam hal pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang berimplikasi kepada kewajiban PD Kebersihan untuk membayar tipping fee sebesar Rp 50 milyar per tahun. Dari sisi tiping fee penanganan sampah jelas akan menguras APBD, sedang di sisi lain program kesejahteraan rakyat banyak yang tidak berjalan.

- Hukum dan Kebijakan Publik

Pemerintah kota mengabaikan hukum dan lebih mengedepankan kebijkan publik yang populis dan untuk kepentingan jabatannya. Seperti kasus PLTSa, SOR, Hotel Planet, Punclut, dll

- Sosial

Pemerintah menuntup tempat prostitusi Saritem, tapi tidak menutup tempat ”hiburan” yang terselubung seperti Hotel, Panti Pijat, karaoke, warung remang – remang dan Pub – pub malam. Sedangkan penutupan Saritem tidak diikuti dengan penanganan perekonomian, yakni jaminan kepastian kerja (penghasilan yang layak). Sehingga 5 ribuan jiwa tidak jelas nasib masadepannya.

- Anggaran

Tidak berimbangnya peruntukkan anggaran antara belanja publik dengan belanja rutin pegawai (operasional aparat). Yakni 70% untuk operasional aparat dan 30% untuk publik.

- Infrastruktur Publik

1. Kelalaian Walikota dalam merawat fasilitas publik, berakibat pada rusaknya fasilitas umum seperti jalan raya yang tidak layak, sekolah roboh, dan mengakibatkan korban jiwa.

2. SOR dibangun pada tempat yang tidak representatif yakni jauh dari akses publik. Sehingga dipertanyakan tujuan walikota dalam meningkatkan olah raga kota Bandung.

- Kebebasan Berpendapat

Walikota mengintimidasi warga yang menyatakan kekritisannya terhadap kebijakan pemerintah. Seperti kasus penyerangan kantor Walhi, penyerangan kantor BIGS, ”pengawalan” patok PLTSa, Intimidasi mahasiswa di kampus – kampus lewat rektor.

Dari pemaparan diatas bisa disimpulkan bahwa kota Bandung selama ini “salah urus” dan jika dibiarkan memimpin lagi, maka kota Bandung akan mengalami kebangkrutan dari segala sisi. Dan “kebangkrutan” itu akan lebih cepat jika Anggota Dewan diam saja. Kami, atas nama warga Bandung menyatakan MENOLAK LKPJ Walikota periode 2003 – 2008 serta menyatakan yang bersangkutan tidak layak memimpin kota Bandung lagi.

Bandung, Juni 2008

GEMA SABILULUNGAN





DADA ROSADA MERUSAK KENYAMANAN KOTA BANDUNG

15 07 2008

Apabila mengevaluasi hasil kebijakan Dada Rosada, maka nampak bahwa Kota Bandung mencerminkan kebijakan Tata Kota yang ngawur. Berbagai masalah, seperti kemacetan lalu lintas, kerusakan lingkungan, kemiskinan, dan pengangguran tak henti meneror warga. Kota Bandung yang semestinya menawarkan kenyamanan untuk tinggal dan beraktivitas justru berkembang sebagai kawasan yang tidak ramah bagi penghuninya. Hal itu ditandai dengan menjamurnya gedung bertingkat, pertokoan, mal, atau perumahan begitu cepat menjejali berbagai sudut.

Tidak jelas apa yang ada dipikiran Dada Rosada, sehingga strategi pengembangan perkotaan dilepaskan begitu saja kepada mekanisme pasar bebas yang hanya berorientasi pada kepentingan kelompok kuat dan investor, sedangkan hajat bersama seluruh warga justru diabaikan. Mudah ditebak, kebijakan pengembangan Kota akhirnya hanya dinikmati oleh kepentingan elit semata, dan tentunya pemerintah dan pemodal. Sedangkan warga masyarakat berposisi hanya sebagai penonton sekaligus merangkap obyek.

Contoh konkret kebijakan Dada Rosada yang tidak menenggang warga adalah sengaja mematikan pasar untuk kegiatan ekonomi yang dilakukan pedagang tradisionil atau pedagang kecil, hal tersebut terbukti Dada Rosada tidak mengendalikan pembangunan mal, supermarket maupun minimarket waralaba. Bahasan menjadi menarik, untuk siapa pembangunan tersebut? Berapa orang yang diuntungkan? Berapa orang yang telah dirugikan? Sudah diperhitungkah dampak terhadap lingkungan termasuk semakin ruwetnya lalulintas?

Selain itu, coba perhatikan kawasan-kawasan padat huni, pernahkah Dada Rosada memikirkan bahwa kawasan tersebut memerlukan ruang publik? Tahukah Dada Rosada beberapa kawasan tersebut sangat dekat dengan lahan tak terurus milik Pemerintah? Melanggar aturankah, bila lahan tak terurus tersebut dipinjamkan ke warga sebagai ruang publik? Padahal, konsep Kota modern seharusnya memperkenalkan adanya ruang publik, yang merupakan milik bersama sehingga dapat menjadi sarana untuk menyemai tenggang rasa, toleransi, serta menghidupkan sisi keberadaban manusia.

Jelasnya selama Dada Rosada berkuasa telah menambah rusaknya Kota Bandung, dengan membuat kebijakan pertumbuhan Kota yang tidak terkendali, sehingga Bandung bukan lagi sebagai tempat hidup yang sehat dan berkualitas. Selain itu Dada Rosada juga secara sengaja merusak Kota dengan melirik Punclut dan berani berhadapan dengan almarhum Otto Sumarwoto (begawan lingkungan) dengan ngotot tetap akan membangun PLTSa walaupun telah diperingatkan oleh almarhum.





gugatan Warga Bandung ke Dada Rosada

7 07 2008

—— Ini dia daftar gugatan warga ke PENGADILAN terhadap kepemimpinan Dada Rosada. Bukti bahwa ada banyak perlawanan dari rakyatnya sendiri :
1. Gugatan ke PTUN thd pembangunan apartemen Setiabudi oleh WALHI Jabar dan LBH Bandung, tahun 2004
2. Gugatan ke PTUN thd pembangunan jalan di Punclut yang melanggara RTRW oleh YPKLTS tahun 2005
3. Gugatan Class Action ke PN oleh masyarakat korban longsor TPA Leuwigajah, tahun 2006
4. Gugatan ke PTUN thd pembangunan hotel di Rancabentang oleh Adnan Buyung Nasution tahun 2006
5. Gugatan thd pembangunan Pasar Cicadas oleh P3CB tahun 2007
6. Gugatan thd pembangunan PLTSa oleh “Aliansi” tahun 2008.*

—— Sudahlah jangan terlalu membahas “yang terhormat” dada rosada. saya khawatir menjadi yang tidak terhormat dada rosada.*

—— Saya setuju, ini untuk mempertaruhkan calon independen, segera incumbent enyah dari panggung politik, udah terbukti tidak sukses kok masih nyalon.*

—— Pemimpin Kota Bandung yg akan datang harus merakyat tahu keinginan rakyat , kita lihat jalan2 dikota bandung amburadul sementara pajak diharuskan setor tepat waktu tapi untuk pembangunan tidak maksimum kalau tidak dikatakan jelek ? . kita coba dari luar birokrat yang benar2 mau pembenahan / revolusi aparatur2nya , karena belanja aparatur pemerintahan kota bandung cukup besar , tapi kerja tidak optimal kalau bahkan menjurus pada karakter yg busuk. kita berharap PILWAKOT 2008 ini dapat memilih Pemimpin baru yang mau berjuang utk rakyat jangan diam duduk di kantor saja ??? *

—— Sudah sejak 96 saya tinggal di bandung, baru inget lagi walikota kita ternyata namanya Dada Rosada he he he….*

—— Memang sudah saatnya pemimpin2 yang sepuh segera undur diri saja, beri kesempatan kepada yang muda2. Krn yang sepuh2 kalau dikritik yang muda2 suka pada tersinggung. Kalo yang muda dikritik sama yg muda jadi tambah semangat melakukan perbaikan… Saya liat nih calon2 independen banyak yang muda-muda dan pintar…mudah2an juga nanti kampanye mereka adalah kampanye yang edukatif jauh dari slogan dan janji2 palsu….*

—— Gagalkan Dada Rosada menjadi Walikota Bandung!!! Sepakat!! biarkan DDada jalan sendiri; percaya diri/pd; PD=Pasti DO…..*

—— Prestasi Dada Rosada:
1. Penerangan Jalan mati.
2. Jalan rusak.
3. Mall dimana-mana
4. APBD berpihak ke Parpol dan Antek-anteknya
5. Kemiskinan kota meningkat.
6. Kota Bandung Kota Kumuh.
7. Kemacetan sangat parah.*

—— Ceuk sayah mah Pa Dada teh berhasil . Tingali jalan jeung taman ge di alusan. Saritem di tutup, Tegallega dialusan. PKL boga lahan , tapi kudu leuwih tertib. Nu tetertibmah jelemana , jelemana hararese diatur. Komo nu antipatimah.*

—— Mudah2an suara2 ‘asal bukan dada’ nggak pecah… unik juga ya pilkada bandung ini… public enemy-nya incumbent… nggak kayak jakarta.*

—— Ada paradigma menarik yang beredar di masyarakat dan harus segera diingatkan: “bila seorang bakal calon walikota yang didukung banyak partai adalah dikarenakan alasan calon tersebut diinginkan manggung oleh banyak partai”. Mungkin banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa partai yang mendukung tersebut di rental untuk mendukungnya dan berakibat pada ongkos politik yang sangat mahal. Jadi yang harus disadarkan ke Masyarakat adalah, bagaimana bila balon tersebut terpilih? risikonya selama menjabat harus mengembalikan ongkos politik yang telah dikeluarkan (entah bagaimanapun caranya). jelasnya selama menjabat akan lebih konsentrasi pada komitmen yang dia bikin dengan pihak pendana dan bukanlah rakyatnya. jadi jangan pilih Balon yang didukung oleh banyak partai.*

—— Alhamdulillah Masyarakat Bandung semakin cerdas. bagaimana tidak cerdas, perhatikan kelakuan Dada Rosada menjelang akhir kekuasaannya:
– RW-RW di SABUGA dikumpulkan dan mengenalkan program pelayanan 1 pintu (kenapa baru sekarang menjelang kampanye pilwalkot) serta membagi dana bantuan sebesar Rp. 500.000,- (kenapa tidak seperti biasanya yang selalu dilakukan akhir tahun)
– kampanye di SMA 2 (walaupun tidak mengaku kampanye), untuk sekelas Dada pasti tahu, bahwa kampanye di lembaga pendidikan adalah tidak boleh (sehingga dada dalam menuju kursi walikota telah sengaja menabrak norma etika)
– camat, lurah dan aparat birokrat dengan lincahnya menyampaikan program-program yang berwarna dada rosada dengan ancaman tidak akan jalan bila dada tidak terpilih (ditaruh dimana etika seorang aparat negara yang katanya abdi masyarakat yang netral)
dll-dll kegiatan gencar tebar pesona di akhir jabatan yang menggunakan anggran negara (duit rakyat) dihambur-hambur untuk kepentingan menyambut pemenangan Pilwalkot dengan melanggar etika dan norma.*

—— Hebatnya Rakyat Bandung semakin cerdas bisa membedakan mana yang benar dan mana yang palsu dan salah.*

—— Wah kalau disusun dengan rapih, maka dosa dada ke rakyat bandung sangat luar biasa tebalnya. coba saja, kita tambahi beberapa dosa yang mudah dilihat publik:
– Dada telah mempermalukan Bangsa Indonesia, waktu diundang ke Jepang atas biaya JICA. saat di Jepang dada bukannya mengikuti acara yang disusun JICA, malah kluyuran shoping. hal itu berakibat marahnya JICA dan Dada diusir dengan harus mengembalikan dana JICA sebesar Rp. 60.000.000,- (dada ke Jepang bersama API, perindustrian dan BPLHD)
– dengan dalih apapun penggarapan puncrut adalah menganiaya masa depan jutaan warga bandung
– PLTSa gedebage jelas-jelas ajang persekongkolan antara PT BRIL, beberapa orang ITB yang haus uang, dan pastinya Dada Rosada (dari beberapa release terdapat pembengkakan dana sampai ratusan miliar)
– dada mendapatkan penghargaan-penghargaan yang tidak wajar, contohnya Kota dengan lalulintas yang tertib. kita semua tahu kondisi lalu lintas Bandung yang semrawut. (pantas ditanyakan berapa duit dia membeli penghargaan itu).
– dan masih banyak lagi perilaku obral janji.*





Pilwalkot Bandung 2008: Referendum Prestasi Incumbent

24 06 2008

* Dukung incumbent = Pro-PLTSa

* Pilih incumbent = Pro-Megatron, Hotel Planet, dll.

PEMILIHAN Walikota (Pilwalkot) Bandung 2008 –sebagaimana pilkada di kota lain— merupakan referendum warga kota Bandung tentang prestasi dan keberhasilan incumbent yang kembali menjadi calon walikota. Ketika incumbent kalah, artinya mayoritas warga menilai sang incumbent gagal dalam menjalankan roda pemerintahan kota selama ini. Sebaliknya, jika incumbent terpilih kembali, artinya sebagian besar warga kota atau pemilih mengakui keberhasildan dan prestasi incumbent, karena itu harus diteruskan.

Pilwalkot Bandung 2008 merupakan referendum warga kota tentang prestasi incumbent Dada Rosada selama memimpin kota Bandung. Warga kota yang menilai Dada gagal, atau banyak masalah ketika menjadi walikota selama ini, pasti tidak akan memilihnya. Sebaliknya, jika warga kota menilai Dada berhasi dan berprestasi, tentu ia akan memilihnya. Tapi kemungkinan yang terakhir ini mustahil terjadi, jika saja warga kota Bandung memilih dengan hati nurani, jujur, rasional, dan bebas “money politic”. Bisa dipastikan, yang memilih incumbent adalah mereka yang selama ini turut menikmati “kue kekuasaan dan kekayaan” incumbent, misalnya diberi bantuan, diangkat menjabat jabatan tertentu, dan sebagainya.

Bermunculannya calon independen atau calon walikota perseorangan –yang mendaftar konon mencapai 30 nama— dan munculnya calon lain selain Dada dari kalangan partai politik, jelas merupakan sinyal dan indikator kuat bahwa Dada Rosada harus diganti, terlepas dari berhasil atau gagalnya sang incumbent menjadi walikota selama ini. Namun, mengingat banyaknya masalah selama kepemimpinan Dada, bisa dipastikan, banyaknya “penantang” Dada dalam Pilwalkot Bandung kali ini, menunjukkan sang incumbent memiliki “rapot merah” alias banyak masalah. Maka, jika warga Bandung rasional dan jernih dalam menentukan sikap dan pilihan, sang incumbent tidak akan dipilih. Apalagi warga Bandung –dan warga lain di Jawa Barat– kini memiliki Gubernur baru yang muda dan fresh, berusia 42 tahun, masak walikota Bandung seorang “politisi gaek” yang sudah berusia pensiun –lebih dari 63 tahun (semoga tidak pikun).

Referendum PLTSa

Pilwalkot Bandung 2008 juga merupakan referendum soal Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan dekat permukiman di daerah Bandung Timur (Gedebage). Mengingat hampir 100% warga sekitar bakal lokasi PLTSa menentang PLTSa, bisa dipastikan, jika ada warga sekitar bakal lokasi PLTSa –misalnya perumahan Griya Cempaka Arum (GCA)—memilih Dada, ia menjadi “pengkhianat warga”.

Warga Bandung yang memilih Dada juga berarti pro-PLTSa, mengingat Dada Rosada selama ini ngotot ingin membangun PLTSa, meskipun semua pakar lingkungan independen (termasuk alm. Prof. Otto Soemarwoto) menentangnya. Hanya pakar lingkungan yang turut terlibat dalam proyek PLTSa yang pro, seperti para pengkaji dari ITB yang “kebagian proyek”.

Saat cawalkot lain, seperti Dr. Taufikurrahman (PKS) menentang PLTSa, karena sebagai pakar biologi dari ITB ia paham betul bahaya gas beracun (dioksin) PLTSa bagi lingkungan alam dan nyawa manusia, serta mahlnya biaya operasional PLTSa, Dada Rosada justru tetap keukeuh ingin membangun PLTSa. Ini artinya, memilih Dada = pro-PLTSa, dan Dada menang = PLTSa berdiri! Pasalnya, jika Dada menang, ia akan semakin percaya diri dan mengklaim bahwa mayoritas warga Bandung setuju dengan rencananya membangun PLTSa.

Megatron & Hotel Planet

Jika warga Bandung memilih Dada, selain mendukung PLTSa –yang berarti mendukung penyebaran gas beracun di kota Bandung— juga “merestui” kegagalan Dada dalam mengatasi masalah Hotel Planet (kini Hotel Vue Palace); juga menyetujui pelanggaran Dada dalam kasus pembangunan Megatron di Jln. Ir. H. Djuanda dan Jln. Asia Afrika. Megatron tersebut jelas-jelas melanggar peraturan daerah yang ditekennya sendiri. Konon, kalangan dinas tidak berkutik soal Megatron, karena “putra mahkota” merupakan pelaksana proyek tersebut.

Warga pendukung Dada juga bisa dinilai sebagai warga yang merestui kegagalan Dada dalam menegakkan Perda K3, mengatasi kesemrawutan kota/kemacetan, mengatasi lokalisasi Saritem yang hanya “tutup secara formalitas” (kenyataannya masih jalan tuh prostitusi), dan sebagainya.

Kini pilihan ada di tangan warga Bandung, mau memilih kembali pemimpin yang banyak masalah? Dengan harapan ke depan akan ada perbaikan dan berprestasi baik? Atau bergabung dengan “pasukan” ABD (Asal Bukan Dada)? Kita percaya, warga Bandung sudah dewasa dalam berpolitik dan bisa jernih-rasional dalam memilih pemimpin. Awas, money politic alias suap! (jundula_bdg@yahoo.com).*





Dada setengah-setengah dalam kasus warga saritem

24 06 2008

pintu masuk ke kawasan saritem/detikbandung

Bandung – Setelah panti pijat ‘Citra’ di Jalan Cibadak dipaksa tutup oleh warga Saritem, Senin malam (23/06/2008), rencananya mereka akan kembali melakukan aksi serupa terhadap tempat panti pijat yang diduga melakukan praktik prositusi terselubung.

Tadi malam, ratusan warga Saritem menyerbu panti pijat ‘Citra’ di Jalan Cibadak. Dalam aksi ini warga menerobos masuk dan berteriak meminta penghuni ke luar. Tiga peleton Dalmas dari Polresta Bandung Barat dan Polwiltabes Bandung pun mengamankan. Mereka membawa puluhan pekerja wanita panti pijat Citra untuk diamankan.

“Bukan semalam saja aksi akan kami lakukan, warga mungkin saja akan melakukan aksi sama kepada tempat-tempat yang dianggap prostitusi,” ujar Masnu warga Saritem yang juga Ketua RW 09 Kelurahahan Kebon Jeruk Kecamatan Andir kepada detikbandung, Selasa (24/06/2008).

Masnu mengatakan aksi semalam merupakan aksi spontan warga yang merasa tidak diperlakukan adil oleh pemerintah.

“Kenapa hanya Saritem saja yang ditutup, tapi panti pijat yang melakukan praktik prostitusi dibiarkan saja,” protes Masnu. Dia mencontohkan kawasan Dewi Sartika yang banyak praktik prostitusi.

Masnu mengungkapkan aksi semalam pun dipicu penolakan Sekda Kota Bandung Edi Siswadi terhadap keinginan warga Saritem yang berencana membangun panti pijat dan karoke.

Di tempat yang sama, Dodi (38), warga jalan Saritem RT 05 Rw 09 menyatakan jika walikota akan bangun Bandung sebagai kota agamis, mereka mendukung.

“Tapi jangan dipilih-pilih dong. Sepertinya walikota jijik dengan orang Saritem,” protesnya.

Pantauan detikbandung di panti pijat Citra sekitar pukul 10.30 WIB, panti ditutup oleh rolling door. Tidak ada penjagaan dari polisi.

Menurut pemilik kios yang berada di depan panti, Citra mulai buka pukul 11.00 WIB. “Tapi biasanya jam segini sudah ada karyawan sibuk bersih-bersih. Tapi sekarang mah engga ada, kayanya engga akan buka,” ujarnya.

Saat detikbandung memijit bel, tak ada yang keluar. Namun setelah dicoba beberapa kali, ada seorang laki-laki keluar. Tapi kemudian menutup kembali rolling door dengan wajah cemas.(ern/ern)





Janji tanpa solusi: kisah peluh warga Saritem

24 06 2008

http://bandung.detik.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/24/time/182809/idnews/961676/idkanal/486

Bandung – Ancaman warga Saritem untuk terus bertahan di luar rumah sehingga Pemkot Bandung dan aparat polisi tidak melakukan pengawasan ketat terhadap kawasan Saritem ternyata tak terbukti. Saat adzan maghrib berkumandang, warga pun membubarkan diri.

Sedikitnya dua ratus warga Saritem ke luar rumah dan bergerombol di jalan utama Jalan Saritem pada Selasa (24/06/2008) Sore. Mereka bertahan hampir dua jam. Aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap sikap Pemkot Bandung yang dinilai pilih kasih terhadap kebijakan pemberantasan prostitusi.

Pengawasan ketat yang dilakukan polisi Dalmas pun dinilai terlalu berlebihan. “Kami akan bertahan terus disini sampai engga ada lagi polisi yang awasi kami,” tuntut salah satu warga Saritem, Erwin (30).

Namun pada saat adzan maghrib berkumandang, tanpa dikomando warga mulai dari anak-anak hingga dewasa membubarkan diri. Namun pada saat membubarkan diri, warga masih menggerutu.

“Mana Dada Rosada? Hanya janji-janji melulu tak pernah ada solusi. Ah jangan pilih lagi Dada nanti pas pilkada,” teriak seorang ibu.

Sementara itu beberapa orang aparat dari Polsek Andir yang sejak tadi mengawasi warga, hanya melihat ke arah warga. Mereka pun membubarkan diri.(ern/ern)








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.